makalah

Posted On Mei 10, 2010

Disimpan dalam Uncategorized

Comments Dropped tinggalkan tanggapan

MAKALAH AKHIR

Peranan Wanita pada Proses Pengambilan

Keputusan dalam Keluarga

Oleh:

Shella Ramadhina

I34080113

MK. Berfikir dan Menulis Ilmiah

Dept. Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat

FEMA

IPB

2009/2010

Abstrac

There is several factor that form the boundary women’s pocition in the familiy. It caused, there is some different about women dan man perspective in management familiy, especially to decided. In the perspective of society, man has a power higher than women. It shouldn’t happens because actually women has a important position in the family. For example, about the manufacture of financial thing, women have a higher position than man. Management and manufacture of family financial has become responsibility’s women, not only to women who get job at outsida but also women don’t too.

In developing women’s true personality, some effort must be carried out. Firstly, women has to given understanding about her position in family. Secondly, make women to be autonomous and responsibility so that women hasn’t to feel that herself are weak and not usefull anymore. Actually, women given many cintribution and impact in the family matter. Many lesson has to given for women in Indonesia so that they can be more understand with her position in every situation, especially in family.

Keyword: women, man, different, family, position, power, decided.

RINGKASAN

Perbedaan yang ada antara wanita dengan pria seharusnya tidak menjadi sebuah masalah yang dapat menyebabkan kesenjangan diantara keduanya. Banyak pandangan yang seakan-akan menilai bahwa posisi wanita selalu lebih rendah dibandingkan dengan pria. Pria memiliki wewenang yang lebih banyak daripada wanita dalam segala hal, termasuk di dalam sebuah keluarga.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan perbedaan itu terjadi. Faktor biologis atau genetis merupakan suatu hal yang mutlak dan tidak dapat dirubah karena sudah berasal dari lahir. Sedangkan faktor lingkungan berhubungan dengan adanya perbedaan peranan antara wanita dan pria. Wanita hanya dibatasi oleh peranan internal dimana hanya mengurusi persoalan yang ada di dalam rumah tangga saja, sedangkan pria memiliki peranan yang lebih dari wanita dan bervariasi, tentunya di luar yang berhubungan dengan urusan kerumahtanggaan. Sehingga timbul sebuah asumsi bahwa di dalam keluarga pria lebih memiliki kekuasaan dalam pengambilan keputusan.

Tidak semestinya wanita selalu termarjinalkan. Sebenarnya, banyak peran yang telah dilakukan oleh wanita dalam kelangsungan rumah tangganya. Salah satunya adalah peran wanita dalam pengelolaan keuangan keluarga, dimana ternyata wanita juga dapat memiliki kekuasaan dalam mengatur serta mengambil keputusan untuk mengelola penghasilan yang diperoleh. Baik ibu yang bekerja ataupun yang tidak bekerja memiliki peranan yang sama, hanya saja bagi ibu yang bekerja selain mengelola penghasilan suami, ia juga berperan dalam mengelola penghasilannya sendiri.

Asumsi  dalam masyarakat yang memandang bahwa yang paling menentukan dalam pengambilan keputusan di dalam keluarga adalah laki-laki tidak selamanya benar. Kenyataannya, hampir semua pria (suami) memberikan kekuasaan dan kepercayaan penuh kepada wanita (istri) dalam  mengelola keuangan keluarganya . Ini adalah peran kecil yang dapat dilakukan oleh wanita, akan tetapi tanpa disadari hal tersebut dapat memberikan dampak yang besar dalam kelangsungan kehidupan berkeluarga.

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan nikmat sehat, nikmat iman, serta nikmat islam sehingga pada kesempatan kali ini penulis diberikan kesempatan untuk dapat menulis makalah dalam upaya menuntut ilmu. Tak lupa  shalawat serta salam tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa umatnya dari zaman jahiliyah kepada zaman yang terang benderang seperti sekarng ini.

Seringkali masyarakat membicarakan adanya bias gender antara wanita dengan pria dimana hal tersebut merupakan hal sensitif untuk dibicarakan. Di dalam masyarakat sendiri pria di anggap lebih memiliki kekuasaan dalam menentukan sebuah keputusan dibandingkan wanita. Namun sebenarnya hal tersebut tidak terjadi, terutama  di dalam sebuah keluarga, sebagaimana yang akan dibahas dalam makalah ini secara lebih spesifik. Posisi wanita tidak harus selamanya berada dibawah kekuasaan pria karena itu akan membuat wanita selalu merasa dikucilkan dan dianggap tidak berdaya dihadapan masyarakat. Perlu adanya pemahaman yang lebih untuk menyadarkan para wanita dalam hal peranan dan kedudukannya di dalam keluarga agar adanya perbedaan pandangan itu bisa diminimalisasikan.

Penulisan makalah ini dapat diselesakan dalam waktu sekitar 3 minggu. Namun penyusunan bahan-bahannya sudah dilakukan beberapa waktu sebelumnya. Makalah ini dapat terwujud berkat bantuan dan dukungan sejumlah orang yang sangat penting bagi penulis. Pertama, penulis sangat berterima kasih kepada keluarga penulis yang selalu memberi dukungan dalam segala hal. Ucapan terima kasih juga penulis ucapkan kepada Ibu Ekawati S. Wahyuni selaku dosen MK. Berfikir dan Menulis Ilmiah sekaligus pembimbing dalam penulisan makalah ini yang telah memberikan banyak ilmu tentang bagaimana cara  menulis yang baik sehingga dapat diterim oleh masyarakat. Kemudian tak lupa ucapan terima kasih untuk Dyah Ita Mardyaningsih selaku asisten praktikum MK. Berfikir dan Menulis Ilmiah yang telah banyak membantu serta membimbing penulis dalam prektek-prektek bagaimana membuat sebuah karya tulis yang baik.

Dari penulisan makalah ini, penulis berharap agar tulisan ini dapat berguna sebagai masukan bagi para wanita Indonesia agar senatiasa berperan aktif dan berani dalam membuat keputusan di dalam sebuah keluarga. Menyadarkan para wanita akan kedudukan dan peranannya dalam keluarga.

Penulis pun membuka pintu yang selebar-lebarnya akan adanya kritikan dan komentar, yang diharapkan dapat berguna untuk penyempurnaan dalam pembuatan makalah selanjutnya. Karena tidak menutup kemungkinan bahwa di dalam penulisan ini masih terdapat banyak sekali kekurangan dan kesalahan. Maka dari itu mohon dimklumi sejenak karena penulis pun masih dalam proses pembelajaran.

DAFTAR ISI

Abstrac           ………………………………………………………… i

Ringkasan      ………………………………………………………… ii

Kata Pengantar         ………………………………………………… iv

DAFTAR TABEL    ………………………………………………… viii

BAB I. PENDAHLUAN

1.1.Latar Belakang      ………………………………… 1

1.2.Perumusan masalah           ………………………………… 2

1.3.Tujuan                   ………………………………………… 2

1.4.Manfaat     ………………………………………… 3

BAB II. PEMBAHASAN

2.1.      Perbedaan antara Wanita dengan Pria                        ………… 4

2.2.      Objek yang Berperan dalam Pola

Pengambilan Keputusan         …………………………. 5

2.3.      Peranan Wanita dalam Proses Pengambilan

Keputusan       ………………………………………… 7

2.4.      Pola Pengambilan Keputusan diantara Keluarga

dimana Ibu Bekerja dan Keluarga dimana Ibu Tidak

Bekerja………………………………………………… 8

BAB III. PENUTUPAN

3.1.      Kesimpulan     …………………………………………. 12

3.2.      Saran   …………………………………………………. 13

DAFTAR PUSTAKA          …………………………………………. 14

DAFTAR TABEL

Tabel II.1.

Pengelolaan Penghasilan Suami                  ………………………………… 9

Tabel II.2

Yang Megelola Gaji Responden (Istri)        ………………………………… 10

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Pandangan terhadap kaum wanita dibeberapa belahan dunia dan diberbagai lingkungan tertentu di Indonesia, masih terlihat minor. Kaum wanita tidak mendapat perhatian sebagaimana mestinya, bahkan terkadang tidak diberi kesempatan untuk berkembang seperti kaum pria. Hal ini tidak hanya terjadi dalam skala makro saja, tetapi juga dirasakan dalam skala mikro, seperti di dalam keluarga. Dalam berumah tangga pasti akan banyak sekali masalah yang timbul sehingga dituntut adanya sosok yang dapat berkuasa dalam  mengambil sebuah keputusan.

Seperti yang telah diketahui, pada umumnya berdasarkan kecenderungan masyarakat, citra seorang wanita selalu dianggap lebih rendah daripada pria. Banyak fakta yang memperlihatkan bahwa kebanyakan seorang wanita (istri) terlepas dari kewajibannya, terlalu diposisikan di bawah dari kaum pria. Seharusnya wanita dan pria memiliki kesempatan dan hak yang sama dalam kebebasan bersuara, berpendapat, dan mengaktualisaikan dirinya sehingga tercipta sebuah kesinergisan yang saling menguntungkan.

Banyak hal yang tidak disadari oleh masyarakat bahwa sebenarnya wanita telah memberikan kontribusi yang besar dalam urusan rumah tangga, terutama  dalam hal pengelolaan keuangan keluarga. Baik seorang ibu yang bekerja ataupun yang tidak bekerja memiliki peranan yang sama didalamnya. Sebuah keluarga dimungkinkan tidak dapat mencukupi kepentingan serta kebutuhan keluarganya apabila tidak memiliki manajamen dan pengaturan keuangan yang baik dalam menggunakan peghasilan yang didapat. Maka dari itu, dalam hal ini peran seorang wanita harus dapat lebih dilibatkan dan diintegrasikan didalam pengambilan keputusan.

Tidak dapat dipungkiri bahwa peran dan kedudukan wanita di dalam keluarga memiliki pengaruh yang cukup besar. Oleh karena itu, perlu adanya pembahasan yang lebih mendalam akan masalah ini. Tidak mungkin selamanya wanita selalu terkekang dan berada di bawah wewenang pria sehingga mereka menjadi kaum yang terkucilkan dalam pergaulan masyarakat dan tidak memiliki kekuasaan sama sekali dalam pengambilan keputusan  beberapa permasalahan di dalam  suatu keluarga.

1.2.Perumusan Masalah

Adanya perbedaan kedudukan dan peranan antara wanita dengan pria dalam keluarga menyebabkan timbulnya beberapa pertanyaan:

  1. Apakah yang menyebabkan adanya perbedaan besar antara pria dengan wanita?
  2. Siapakah yang berperan sebagai pengambil keputusan akan adanya beberapa persoalan dalam keluarga?
  3. Apakah yang mempengaruhi peranan wanita dalam proses pengambilan keputusan?
  4. Adakah hubungan antara pola pengambilan keputusan dengan pola pengelolaan keuangan diantara keluarga dimana istri bekerja dan keluarga dimana istri tidak bekerja ?

1.3.Tujuan

Adapun tujuan dibuatnya makalah ini adalah:

  1. Menyelesaikan tugas makalah Berfikir dan Menulis Ilmiah.
  2. Meningkatkan pengetahuan akan masalah gender yang sampai saat  ini masih sering dibahas dan dirasakan dalam masyarakat.
  3. 3. Mendapatkan gambaran akan peranan para kaum wanita (istri) di dalam keluarga.

1.4.Manfaat

Dalam penulisan makalah ini diharapakan dapat memberikan manfaat kepada pembaca, diantaranya adalah:

  1. Menyadarkan kaum wanita akan kedudukan dan peranannya dalam keluarga.
  2. Menunjukkan bahwa setiap manusia, pria dan wanita, memiliki derajat yang sama dihadapan Tuhan dan dapat memiliki kesempatan yang sama dengan pria dalam melakukan hal yang diinginkan.
  3. Mengingatkan khususnya kepada wanita agar tidak selalu bergantung kepada pria sehingga dapat membentuk kepribadian yang mandiri, peka terhadap lingkungan, dan bertanggung jawab
  4. Mendorong para wanita agar dapat berperan aktif dalam segala hal,terutama dalam hal urusan rumah tangga .

BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Perbedaan antara Wanita dengan Pria

Banyak fakta yang menunjukkan adanya perbedaaan besar antara wanita dengan pria. Hal demikian, didukung oleh adanya beberapa faktor yang menyebabkan perbedaan tersebut. Yang pertama, berpangkal pada teori biologis, sedangkan yang kedua bertitik tolak dari teori lingkungan. Menurut penganut teori Biologis, peranan-peranan yang dalam masyarakat manusia digariskan untuk wanita dan pria berbeda karena bersumber kepada adanya perbedaan hakiki dalam sifat badani dan jiwa kedua jenis kelamin tersebut.[1])

Dalam dunia ini, pada umumnya wanita, dibatasi perananya kepada bidang-bidang yang berhubungan langsung dengan rumah tangga seperti mendidik anak, bertenun, dan tugas-tugas lainnya yang berhubungan dengan itu. Jarang sekali ditemukan sistem-sistem sosial dimana wanita berperan dalam bidang-bidang di luar rumah tangga. Lain halnya dengan peranan pria, mereka digariskan peranan yang jauh lebih luas dan bervariasi seperti pahlawan perang, perlindungan keamanan, pemimipin politik, dan sebagainya. Sehingga, pria terlihat mempunyai tingkat kekuasaan yang jauh lebih tinggi daripada wanita.

Berbeda halnya denga n para penganut faham kedua. Mereka mengakui bahwa terdapat perbedaan hakiki antara sifat fisik dari pria dan wanita.[2]) Namun perbedaan tersebut tidaklah besar sehingga hanya memberi kemungkinan untuk peranan-peranan yang sifatnya menetap dan masih merupakan fungsi dari sifat biologis seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

Selain itu, perbedaan ciri-ciri kepribadian antara wanita dan pria adalah oleh adanya faktor genetis (nature) atau oleh faktor lingkungan (nurture) dimana kedua faktor tersebut sulit untuk ditentukan, karena dampak dari kebudayaan terhadap perilaku kedua jenis kelamin sudah dimulai sejak lahir.[3]) Oleh karena itu, terjadilah penstereotipan peran jenis kelamin yang berlangsung di dalam keluarga yang menempatkan wanita pada kedudukan yang lebih rendah, tidak menguntungkan, tidak berkembang, dan tidak berdaya dimata masyarakat.

2.2. Objek yang Berperan  dalam Pola Pengambilan Keputusan

Ada beberapa tulisan yang membahas dan memperlihatkan adanya pola pengambilan keputusan dan struktur kekuasaan dalam keluarga, yang menyatakan bahwa pola pengambilan keputusan dalam keluarga menggambarkan bagaimana pola/struktur kekuasaan dalam suatu keluarga tersebut. Ujang Sumarawan mendefinisikan bahwa keluarga adalah lingkungan mikro, yaitu:

“Sebuah kelompok yang terdiri atas dua orang atau lebih yang terikat oleh perkawinan , darah, (keturunan: anak atau cucu), dan adopsi. Kelompok tersebut biasanya tinggal bersama dalam satu rumah.” (Ujan Sumarwan,2004, hlm. 226)

Menurut Scanzoni dan Scanzoni, metode yeng memang sering digunakan untuk mengukur kekuasaan dalam perkawinan/keluarga (marital power atau family power) adalah dengan menanyakan kepada responden tentang siapa yang mengambil keputusan terakhir tentang sejumlah persoalan dalam keluarga.[4]) Khususnya tentang kekuasaan dalam keluarga (family power).

Cromwell dan Olson mengemukakan 3 bidang yang berbeda untuk menganalisa konsep kekuasaan dalam keluarga, yaitu sumber/dasar kekuasaan (bases of family power), proses kekuasaan dalam keluarga (family power processes), dan hasil kekuasaan dalam keluarga (family power outcomes).[5]) Diantara ketiga bidang tersebut, masalah pengambilan keputusan digolongkan ke dalam bidang kedua dan ketiga, dalam arti: pengambilan keputusan adalah perwujudan proses yang terjadi dalam keluarga dan merupakan hasil interaksi diantara para anggota keluarga untuk saling mempengaruhi (bidang kedua), serta sekaligus juga menunjuk pada hasil/akibat dari sruktur kekuasaan dalam keluarga tersebut, seperti: siapa yang membuat/mengambil keputusan dalam keluarga (bidang ketiga).[6])

Pemikiran-pemikiran di atas akan sangat berguna untuk mengetahui lebih dalam bagaimana terjadinya struktur kekusaan dalam keluarga, seperti siapa yang berhak atau berkuasa untuk mengambil keputusan dalam beberapa masalah di dalam keluarga serta atas dasar apa kekuasaannya tersebut (penghasilan, pendidikan, usia, dll). Misalnya, seseorang akan memiliki kekuasaan yang lebih apabila ia memiliki pendapatan yang jauh lebih tinggi daripada yang lainnya. Selain itu, seorang sarjana akan memiliki kekuasaan yang lebih tinggi pula dibandingkan dengan seseorang yang hanya tamatan dari SMA. Perbandingan penghasilan, pendidikan, jabatan, dan umur dapat menjadi penentu siapa objek yang berperan akan kekuasaan dalam pengambilan keputusan. Tidak hanya dilingkungan eksternal saja, tetapi juga di lingkungan internal, yaitu keluarga. Jadi, dapat dikatakan bahwa untuk mengetahui stuktur kekuasaan dalam keluarga dapat terlihat dalam proses pengambilan keputusan itu sendiri, yaitu sejauh mana seseorang di dalam keluarga tersebut dapat mendominasikan perannya dalam hal pengambilan keputusan.

2.3. Peranan Wanita dalam Proses Pengambilan Keputusan

Saat ini masih terdapat banyak anggapan bahwa wanita tidak mempunyai peran dalam pengambilan keputusan, baik di luar maupun di dalam rumah tangga. Adanya bias gender selalu memposisikan wanita sebagai sosok yang lemah dan tidak memiliki kekuasaan. Berdasarkan norma yang ada mengatakan bahwa yang paling menentukan dalam pengambilan keputusan adalah kaum pria (suami). Hal tersebut tidak dapat dipungkiri lagi di lingkungan masyarakat.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi peranan wanita dalam persoalan pengambilan keputusan, antara lain seperti yang dikemukakan oleh Rosaldo, dalam kerangka pemikirannya tentang hubungan antara wanita, kebudayaan, dan masyarakatya. Ia membedakan secara tegas dua sektor kegiatan dalam masyarakat, yakni sektor publik dan sektor domestik. Sektor domestik adalah bidang untuk wanita, yakni di lingkungan rumah tangganya saja, sedangkan sektor publik adalah bidang untuk pria, yakni di luar lingkungan rumah tangga sebagai pencari nafkah untuk keluarganya.[7]) Perbedaan terhadap kedua sektor ini tidak selalu sama ditiap masyarakat, karena pada umumnya dipengaruhi oleh kebudayaan masyarakat yang bersangkutan. Menurut Rosaldo, pada masyarakat terdapat perbedaan yang ketat antara kegiatan di sektor domestik dan sektor publik, yakni apabila wanita terkucil dari pergaulan masyarakat dan sepenuhnya berada di bawah wewenang suaminya, maka kaum wanita (istri) cenderung tidak mempunyai kekuasaan sama sekali untuk mengambil keputusan dalam keluarganya apalagi dalam masyarakat.[8]) Selain itu, ada pula faktor-faktor lain yang di anggap mempengaruhi peranan wanita dalam pengambilan keputusan, yaitu proses sosialisasi, pendidikan, latar belakang perkawinan, kedudukan dalam masyarakat, dan pengaruh luar lainnya.[9])

Akan tetapi, kini pernyataan akan rendahnya posisi wanita dibandingkan  pria tidak selamanya berlaku, karena sekarang banyak kaum wanita yang telah berpendidikan sehingga terjadi kesetaran gender didalamnya. Pada kenyataannya, dapat dilihat bahwa terdapat banyak sekali variasi dalam soal pengambilan keputusan dalam keluarga. Adakalanya seorang wanita tidak diikutsertakan dalam pengambilan keputusan, terkadang ada pula justru wanitalah yang lebih berperan di dalamnya. Banyak pula keputusan yang diambil berdasarkan kesepakatan keduanya, yaitu kesepakatan antara suami dan istri.

Oleh karena itu, sudah seharusnya pandangan tentang kaum wanita itu dirubah, kenyataannya kini sudah banyak wanita yang diberi kesempatan untuk bekerja dan berperan selayaknya seorang pria serta berhak untuk mengemukakan pendapat, sehingga tidak ada lagi alasan bahwa wanita itu selalu lemah dan selalu bergantung dimata seorang pria.

2.4. Pola Pengambilan Keputusan diantara Keluarga dimana Ibu Bekerja dan Keluarga dimana Ibu Tidak Bekerja

Terdapat perbedaan dalam pola pengambilan keputusan diantara keluarga dimana istri bekerja dengan keluarga dimana istri tidak bekerja. Sebelumnya akan dibahas terlebih dahulu tentang pola pengelolaan keuangan keluarga, yang berarti pula memiliki wewenang untuk menentukan penghasilan yang diperoleh keluarga tersebut. Hal ini akan berkaitan dengan pola pengambilan keputusan yang terkait. Peran pengelola keuangan dalam keluarga sangat penting karena jika pengelola keuangan yang dilakukan tidak cermat akan menyebabkan terancamnya kebutuhan keluarga yang mungkin nantinya tidak dapat dipenuhi.

Menurut pengamatan yang dilakukan Ihromi dan Tapi Omas (1990) ternyata hampir seluruh responden (90%) mengatakan bahwa gaji suami setiap bulannya diserahkan kepada responden. Selain itu, pengelolaannya pun diserahkan kepada istrinya. [10]) Lihat Tabel II.1.

Tabel II.1

Pengelola Pengasilan Suami

Yang mengelola Golongan
Bekerja Tidak Bekerja Menengah Bawah
  1. Istri
  2. Suami
  3. Suami dan istri
46 (62%)

8 (11%)

20 (27%)

74 (100%)

55 (70%)

7(9%)

17 (21%)

79 (100%)

52 (65%)

7 (9%)

21 (36%)

80 (100%)

46 (67%)

8 (11%)

16 (22%)

73 (100%)

Sumber: Indra Lestari, “ Pengambilan Keputusan dalam Keluarga”, dalam Para Ibu yang Berperan Tunggal dan Berperan Ganda, Ihromi  dan Tapi Omas, 1990, hlm. 91, Tabel VI.1.

Table II.1. memperlihatkan bahwa pengelola peghasilan suami sebagian besar adalah istri (masing-masing lebih besar dari 50%). Walaupun perbedaannya tidak terlalu besar namun terlihat bahwa lebih banyak istri bekerja (70% dan 62%). Selain itu, kita juga dapat melihat adanya kecenderungan kerjasama antara suami dan istri terkait pengelolaan keuangan keluarganya.

Bagi para keluarga dimana istrinya bekerja, selain mengelola penghasilan suaminya, ia juga mengelola penghasilannya sendiri, baik untuk kepentingan keluarga maupun untuk kepentingan pribadi. Secara tradisional kedua macam penghasilan ini sama-sama digunakan untuk kepentingan dan kebutuhan rumah tangga, meskipun tanggapan umum mengatakan penghasilan istri merupakan tambahan terhadap penghasilan suamiya (misal: istri lebih besar).[11]) Lihat Tabel II.2.

Table II.2.

Yang Mengelola Gaji Responden (Istri)

Yang mengelola Golongan
Menengah bekerja Bawah bekerja
  1. Istri
  2. Suami
  3. Suami dan istri
29 (74.3%)

1 (2.6%)

9 (23.1%)

31 (77.5%)

1 (2.5%)

8 (20%)

N = 39 (100%) 40 (100%)

Sumber: Indra Lestari, “ Pengambilan Keputusan dalam Keluarga”, dalam Para Ibu yang Berperan Tunggal dan Berperan Ganda, Ihromi  dan Tapi Omas, 1990, hlm. 92, Tabel VI.2.

Dari table II.2. terlihat bahwa istri yang bekerja secara dominan mengelola penghasilannya sendiri. Namun, ada beberapa hal  yang terlihat bahwa terdapat beberapa campur tangan suami dalam penghasilan suaminya, 23.1% pada golongan menengah dan 20% pada golongan bawah. Akan tetapi dalam hal ini sepertinya penghasilan suami atau istri tidak dipermasalahkan karena masing-masing penghasilan nantinya akan digunakan bersama-saman untuk kepentingan keluarganya.

Dari penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa dalam pengambilan keputusan mengenai penggunaan uang dalam kehidupan sehari-hari  seorang istri lebih berperan daripada suaminya. Untuk para ibu yang tidak bekerja, mereka hanya mengelola keuangan penghasilan suaminya saja, sedangkan untuk para ibu yang bekerja, mereka tidak hanya mengelola dan mengatur keuangan penghasilan suaminya saja melainkan penghasilannya ia sendiri. Namun pada intinya, semua penghasilan yang ada di dalam suatu keluarga tersebut akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan bersama, meskipun tanggapan umum mengatakan pendapatan istri merupakan tambahan terhadap penghasilan suaminya, terlepas dari berapa penghasilan yang diterima istri dibandingkan penghasilan suaminya, misalnya penghasilan istri lebih besar dari suami. Jadi, selain mengelola keuangan keluarga, keseimbangan antara pengeluaran dan pendapatan juga akan menjadi tanggung jawab seoarang istri, sehingga kepentingan dan kebutuhan keluarga senantiasa tercukupi.

BAB III

PENUTUPAN

3.1.Kesimpulan

Tidak dapat dipungkiri bahwa perbedaan antara wanita dengan pria itu memang ada. Terutama dalam faktor biologis dan lingkungan, kedua faktor tersebut merupakan dampak dari kebudayaan terhadap perilaku kedua jenis kelamin yang sudah dimulai sejak lahir. Kemudian adapula perbedaan peran didalamnya, peran seorang wanita hanya dibatasi oleh peran internal yang hanya mengurusi urusan kerumahtanggaan saja, sedangkan pria mempunyai peran eksternal yang lebih bervariasi, sehingga menimbulkan kesan bahwa kedudukan pria lebih tinggi dibandingkan wanita. Seharusnya persepsi itu dihilangkan karena dimata Tuhan derajat wanita dan pria itu adalah sama.

Terjadinya struktur kekuasaan dalam suatu keluarga dapat terlihat dari proses pengambilan keputusan itu sendiri. Dalam hal ini, yang berperan dalam pola pengambilan keputusan  dapat ditentukan dengan mengetahui siapa yang berkuasa atau dianggap paling berhak untuk mengambil keputusan dalam keluarga, dan dapat juga di lihat dari kekuasaan apa yang dimiliki, seperti penghasilan, pendidikan, usia,dsb.

Perbedaan yang ketat antara wanita dengan pria dalam hal kegiatan terkait sektor domestik dan sektor publik merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi peranan wanita dalam pengambilan keputusan. Sehingga, peran wanita mejadi lebih terbatas. Kemudian adapula proses sosialisasi, pendidikan, latar belakang perkawinan, kedudukan dalam masyarakat, dan pengaruh luar lainnya yang menjadi faktor eksternal.

Tidak dapat dipungkiri perihal pengelolaan keuangan keluarga  bahwa dalam pengambilan keputusan mengenai penggunaan keuangan, wanita memiliki peranan yang lebih beser dibandingkan pria. Manajamen keuangan keluarga menjadi tanggung jawab seorang istri. Ini berarti tidak selamanya wanita selalu merasa termarjinalkan karena setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

3.2.Saran

Setelah mendapatkan gambaran akan peranan wanita dalam keluarga sebagai pengambil keputusan, muncul beberapa saran dari penulis bahwasanya dari beberapa fakta yang ada, kini sudah saatnya wanita untuk bangkit dari keterbelakangan. Seharusnya wanita dapat lebih menyadari akan peranan dan kedudukannya sebagai wanita di dalam sebuah keluarga, menyadari bahwa sebenarnya wanita memiliki kesempatan yang sama dengan pria dalam melakukan apapun yang diinginkan karena dimata Tuhan sesungguhnya baik wanita maupun pria memiliki derajat yang sama. Seorang wanita harus dapat mandiri dan tidak selalu bergantung dengan orang lain, selalu aktif tidak pasif, senantiasa bertanggung jawab akan tugas-tugas dan peran-peran yang diembannya, serta peka terhadap lingkungan sekitar.

Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Khususnya bagi para wanita Indonesia yang sesungguhnya memiliki potensi luar bisa sehingga dapat selalu berkontribusi kepada nusa dan bangsa pada umumnya, khususnya dalam keluarga.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Hibri, Azizah, dkk, H. M Atho Mudzhar (ed).2001. Wanita dalam Masyarakat Indonesia Akses, Pemberdayaan dan Kesempatan. Yogyakarta: Sunan Kalijaga Press.

Cromwell, Ronald E. & David H. Olson. Power in Families dalam Para Ibu yang Berperan Tunggal dan yang Berperan Ganda. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Ihromi & Tapi Omas. 1990. Para Ibu yang Berperan Tunggal dan yang Berperan Ganda. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Ihromi, T. O & Maria Ulfah.1994. Peranan dan Kedudukan Wanita Indonesia. Yogyakarta: Gajah Mada Press.

Rosaldo M. Z. & Lamphere (ed). 1974. Women, Culture and Society dalam Para Ibu yang Berperan Tunggal dan yang Berperan Ganda. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Sajogyo, Pudjiwati. “Meneliti Peranan Wanita Pedesaan di Jawa Barat”. Lembaga Penelitian Sosiologi Pedesaan, Institut Pertanian Bogor.

Scanzoni, Letha Dawson & John Scanzoni. 1981. Men, Women and Change dalam Para Ibu Berperan Tunggal dan yang Berperan Ganda, Ihromi, Tapi Omas, Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Sumarwan, Ujang.20094. Perilaku Konsumen Teori dan Penerapannya dalam Pemasaran. Bogor: Ghalia Indonesia.


[1] ) Ihromi T.O dan Maria Ulfah, Peranan dan Kedudukan Wanita, Gajah Mada Press, Yogyakarata,   1994, hlm. xii

[2]) Ibid, hlm. xiii

[3]) AL-Hibri,dkk, H. M. Atho Mudzhar (ed) dkk,Wanita dalam Masyarakat Indonesia Akses, Pemberdayaan dan Kesempatan, Sunan Kalijaga Press, Yogyakarta, 2001, hlm. 309

[4]) Letha Dawson Scanzoni dan John Scanzoni, seperti yang dikutip dalam Ihromi dan Tapi Omas, Para Ibu yang Berperan Tunggal dan yang Berperan Ganda,  Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta, 1990, hlm. 87-88

[5] ) Ronald E. Cromwell dan David H. Oslon, loc. cit, hlm. 88

[6]) Ibid, hlm.88

[7]) Michelle Zimbalist Rosaldo dan Lamphere (ed), loc. cit,  hlm. 89

[8] ) Ibid, hlm. 90

[9] ) Pudjiwati Sajogyo, Meneliti peranan Wanita Pedesaan di Jawa Barat, Lembaga Penelitian Sosioligi Pedesaan, IPB-Bogor.

[10]) Ihromi dan Tapi Omas, Para Ibu yang Berperan Tunggal dan yang Berperan Ganda,  Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta, 1990, hlm. 91

[11] ) Ihromi dan Tapi Omas, Para Ibu yang Berperan Tunggal dan yang Berperan Ganda,  Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta, 1990, hlm. 92

mencoba merakit komputer yang realistis

Posted On Maret 16, 2010

Disimpan dalam Uncategorized

Comments Dropped tinggalkan tanggapan

CPU: Intel Core 2 Duo E6600 (2,4 GHZ X 2) LGA 775 Processor (4 MB shared L2 cache).

Mainboard: Intel ® Desktop Board DG965RY Classic Series (mendukung empat 240-pin DDR2 SDRAM Dual Inline Memory Module (DIMM) sockets; 6-channel (5.1) audio subsystem menggunakan SigmaTel * STAC9227 audio codec; Intel ® Graphics Media Accelerator X3000 (Intel ® GMA X3000) subsistem grafis onboard; Gigabit (10/100/1000 Mbits / sec) LAN subsystem menggunakan Intel ® 82566DC Gigabit Ethernet Controller; Sepuluh USB 2.0 port; Empat Serial ATA IDE interface; Satu PCI Express x16 bus memberikan add-in card Konektor; Tiga PCI Express * x1 bis add-in card konektor)

Chipset: Intel (R) G965 Express Chipset Comes dengan mainboard

RAM : 2 x DDR 2 (667 MHz) 1GB

Graphics Card for Dual MonitorKartu grafis untuk Dual Monitor: GeForce 6200 LE dengan 256 MB RAM (wajar untuk non-sistem game). Menyediakan port VGA serta DVI port untuk mendapatkan VGA output.

Display : 2 x 17″ LCD Monitor ( Samsung SyncMaster 740N ).

Hard disk: 2 x 160 GB SATA Seagate Barracuda ST3160211AS (dikonfigurasi seperti software RAID 1).

Optical Drive: LG DVD Writer.

Kabinet: Zebronics Lava yang dilengkapi dengan sensor suhu yang mengontrol dua kipas yang terletak berlawanan dengan CPU. Kemudian mengatur sensor sedekat mungkin ke CPU dan menambahkan kipas tambahan  untuk ekstra-aman.

Update: Bagian yang terbaik adalah bahwa hal itu berjalan pada Linux (Fedora Core 6).


Kriteria Komputer Idaman gw neeeh…

Posted On Maret 9, 2010

Disimpan dalam Uncategorized

Comments Dropped tinggalkan tanggapan

 

Sebelum gw mendeskripsikan kriteria komputer idaman gw, terlebih dahulu gw pengen berbagi informasi tentang spesifikasi laptop yang gw punya saat ini. Spesifikasinya yaitu :

System Information

Operating System : Window Vista Home Basic (6.0, Build 6002)

System Manufactures : Hewlett-Packard

Sytem Model : Compac Presario CQ40 Notebook PC\

BIOS : Default System Bios

Processor : Intel(R) Pentium(R) Dual CPU T3400 @ 2.16 GHz (2 CPUs), ~2.2 GHz

Memory : 3036MB RAM

Page File : 1475MB used, 4828 MB available

Device

Name : Mobile Intel(R) 4 Series Express Chipset Family

Manufacture : Intel Corporation

Chip Type : Mobile Intel(R) 4 Series Express Chipset Family

DAC Type : Internal

Approx. Total Memory : 1293 MB

Current Display Mode : 1280 x 800 (32 bit) (60 Hz)

Monitor : Generic PnP Monitor

Drivers

Main Driver : igdumdx32.dll,igd10umd32.dll

Version : 7.15.0010.1554 (English)

Date : 02/09/2008 20:15:04

WHQL logo’d : yes 

DDI Version : 10

DirectX Feature

DirectDraw Acceleration : Enabled

Direct3D Acceleration : Ennabled

AGP Texture Acceleration : Enabled

 

————-
Sound Devices
————-
Description: Speakers and Headphones (IDT High Definition Audio CODEC)
Default Sound Playback: Yes
Default Voice Playback: Yes
Hardware ID: HDAUDIO\FUNC_01&VEN_111D&DEV_76B2&SUBSYS_103C3607&REV_1003
Manufacturer ID: 1
Product ID: 100
Type: WDM
Driver Name: stwrt.sys
Driver Version: 6.10.6087.0000 (English)
Driver Attributes: Final Retail
WHQL Logo’d: Yes
Date and Size: 9/11/2008 18:54:44, 389120 bytes
Other Files: 
Driver Provider: IDT
HW Accel Level: Basic
Cap Flags: 0xF1F
Min/Max Sample Rate: 100, 200000
Static/Strm HW Mix Bufs: 1, 0
Static/Strm HW 3D Bufs: 0, 0
HW Memory: 0
Voice Management: No
EAX(tm) 2.0 Listen/Src: No, No
I3DL2(tm) Listen/Src: No, No
Sensaura(tm) ZoomFX(tm): No
Description: Independent Headphones (IDT High Definition Audio CODEC)
Default Sound Playback: No
Default Voice Playback: No
Hardware ID: HDAUDIO\FUNC_01&VEN_111D&DEV_76B2&SUBSYS_103C3607&REV_1003
Manufacturer ID: 1
Product ID: 100
Type: WDM
Driver Name: stwrt.sys
Driver Version: 6.10.6087.0000 (English)
Driver Attributes: Final Retail
WHQL Logo’d: Yes
Date and Size: 9/11/2008 18:54:44, 389120 bytes
Other Files: 
Driver Provider: IDT
HW Accel Level: Basic
Cap Flags: 0xF1F
Min/Max Sample Rate: 100, 200000
Static/Strm HW Mix Bufs: 1, 0
 Static/Strm HW 3D Bufs: 0, 0
HW Memory: 0
Voice Management: No
 EAX(tm) 2.0 Listen/Src: No, No
I3DL2(tm) Listen/Src: No, No
Sensaura(tm) ZoomFX(tm): No
Sebagai seorang manusia, wajar donk klo kita punya impian untuk bisa menciptakan sebuah komputer yang kita idam-idamkan. 
Disini gw mau sharing tentang kriteria komputer idaman gw dimana kriterianya sebagai berikut : 

Processor : Core i7 950 Box (call) (8M Cache, 3.06 GHz, 4.8GT/s) LGA 136
Motherboard : Asus
Memory : Adata AD31800E002GM(O)U3K CL8 (call) 2Gx3-1800+ Chipset: DDR3 Module VALUE, EXTREME, X series, XPG series
VGA : Asus EN GTX 285 X2 MARS 4 Gb 512Bitx2 DDR3
Casing : Asus TA-21A Middle Tower 650W
Power Supply : Antec Signature 850W
Harddisk : 500 GB
Cooler Harddisk : XIGMATEX SecureUSD01 HDD Docking
Cooler Processor : Asus Axe Square (call)
Cooler Casing : Liquid
Cooler Memory : XIGMATEX Dragoon N422 RAM Cooler Dragoon N422
Cooler VGA : Gigabyte V-Power GH-UDUP21-VC Vga cooler with copper base for Ati Radeon x1800,X1900,X1950 Series,nVidia GeForce 6800,7800,7900 Series
Keyboard : LOGITECH Cordless Desktop MX5500 Laser (Bluetooth)
Mouse : Razer Mamba
LCD : Asus 20 Inch LS201
Speakers : Razer Mako Speaker 2.1 THX 300watt Rms

gw yakin setiap orang pasti punya kriteria komputer idamannya masing2, tapi gw harap itu semua bukan hanya ada di dalam khayalan kita aja tapi kita harus bisa mewujudkannya.
Lets Make Dream Come True….

praktikum penkom pertama kali

Posted On Februari 27, 2010

Disimpan dalam Uncategorized
Tag: ,

Comments Dropped tinggalkan tanggapan

petama kali masuk praktikum penkom sungguh menyedihkan. kelasnya penuh banget sekitar 100 orang lebih. ada beberapa temen yang ga kebagian komputer. bukan ga kebagian komputer siii,tapi komputernya error, ada yang ga bisa buat internetan. akhirnya banyak yang ngampar duduk di lantai sambil bawa laptop masing-masing.

Hello world!

Posted On Februari 27, 2010

Disimpan dalam Uncategorized

Comments Dropped one response

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.